Saat Mama Bertanya dan Kami Menjawab

by - February 06, 2018

pixaby

      Assalamuaaikum emak, semoga senantiasa dalam lindungan dan dekapa-Nya, amin. Alhamdulilah minggu pertama di bulan February ini, kami berkesempatan untuk menjawab pertanyaan dari seorang ibu muda yang ‘resah bin galau’ terhadap kedua anaknya. Izinkan saya dan mba liefa menjawab pertanyaan itu sepengetahuan dan semampu kami. karena kami juga masih dan akan terus belajar dalam membersamai si kecil yang kian hari, kian menggemaskan. Jangan lupa intip jawaban mba liefa ya. 


Bismillahirrohmanirrohim, terima kasih bunda atas pertanyaan yang juga sekaligus menjadi reminder buat kami dalam pengasuhan ini. saya juga ibu muda yang fakir ilmu dalam pengasuhan. Tapi Insyalloh akan saya jawab sepemahaman saya.

            Question and answernya adalah sebagai berikut:

Q: Mba saya merasa bersalah ke anak pertama, karena tidak mengajarkan ‘pendidikan’ sejak dini. Pendidikan ini seperti kemandirian, sopan-santun, iman, dan karakter-karakter islami. Apa yang harus saya lakukan?

A:  Pertama yang bisa ibu lakukan adalah meminta maaf kepada kakak. Karena minimnya pengetahuan dan akses untuk belajar kala itu. sejajarkan kita dihadapan anak. Minta maaf bukan berarti merendahkan harga diri kita dihadapan sang anak. Melainkan untuk mengenalkan kakak bahwa setiap manusia pasti punya salah dan khilaf. Dan berani mengakuinya adalah jiwa kestria. Setelahnya up date pengetahuan kita tentang parenting. Isi otak dan hati kita dengan ilmu-ilmu parenting, karena anak-anak kita berhak mendapatkan pendidikan islam dan akhlak sejak dini. Hunting buku juga kita sediakan untuk kakak dan adik. Donegengkan cerita-cerita islami, cerita nabi, dan karakter-karakter yang bernafaskan islam dan akhlak setiap malamnya atau menjelang tidur. saya pernah posting manfaat mendongeng sejak dini disini. Insyalloh kakak akan mengerti dan mau merubah perilakunya sedikit demi sedikit. Pun mengikuti komunitas parenting juga membuat kita banyak belajar karena umumnya yang menjadi topic adalah anak-anak. Jadi kita sebagai orang tua bisa sharing apa saja yang kita lakukan terkait perilaku anak yang tidak sesuai dengan keinginan kita.


Q: Akibat dari kejadian pertama, berdampak ke Anak kedua (missal usia 2 tahun), si adik protes “kakak saja kalau main tidak dibereskan, kakak saja kalau ketemu nenek tidak mencium tangan,” dll, bagaimanakah sikap saya?

A: kalau kakak sudah rutin dibacakan buku atau bisa baca buku sendiri setiap malamnya tetang kemandirian, sopan-santun hal ini akan berdampak pada perilakunya sehari-hari, maka secara tidak langsung adik akan melihat perubahan ini. dan lambat-laun akan mengikuti jejaknya. Children see, children do. Mereka melihat, maka mereka juga akan melakukan. Insyalloh kedepannya akan lebih mudah untuk ‘mempengaruhi’ si adik dari perilaku kakaknya yang sudah lebih baik dari sebelumnya.

Q: Bagaimana menyikapi kondisi dari luar yang tidak bisa kita control, missal ”Bunda kenapa adik tidak boleh menonton TV? kenapa adik tidak boleh main game lama-lama? Sedangkan mas A boleh.”

A: Sebagaimana makhuluk social, kita selamanya tidak bisa hidup sendiri. Selalu berinteraksi dengan orang lain, apalagi dengan saudara, sepupu bahkan tetangga kita. Oleh karenanya hal yang paling bijak yang bisa kita lakukan adalah membentengi jiwa mereka dengan kisah-kisah hikamh. Kisah-kisah yang membawa pada akhlakul karimah. Parenting yang bernfaskan nabawiyah insyalloh menjawab semua keresahan kita di zaman seperti ini. ajak anak berlogika, missal: “Bunda, kenapa adik nggak boleh nonton TV dan main game terlalu lama sedangkan mas A itu boleh sama mamamnya?” “Adik nonton TV dan main game berlama-lama itu tidak baik untuk mata. Bisa merusak mata, adik nggak mau kan matanya sakit. Kita baca cerita aja yuk atau main permainan yang lain.”. alihkan perhatiannya dengan melakukan permainan yang mengasyikkan. selanjutnya ajak anak-anak kita main ke taman, atau dirumah dengan mainan montessorian yang lagi hits saat ini. karena permainan Montessori ini tidak hanya disukai anak, tapi juga mengasah motorik kasar, halus etc.


Kurang lebih itulah yang bisa saya sarankan ke bunda. Saya juga masih berproses, menjadi ibu yang benar-benar madrsatul ula untuk anak saya. Sayyidina Ali berpesan, “Didiklah anak sesuai dengan zamannya” oleh karenanya masuklah ke dunianya. Dunia bermain. Jadikan kita orang tuanya sebagai teman, bukan orang tua yang bisanya hanya melarang tanpa bisa memberi teladan. Jadikan kita sebagai pusat gravitasi di rumah, insyalloh kalau itu sudah kita lakukan anak tidak akan mudah terpengaruh dari luar.


Menurut Bu Septi, seorang ibu hebat yang telah mengantarkan anak-anaknya dengan sukses berpesan “Perbanyak aktivitas bersama, main bersama, ngobrol bersama, Insyalloh anak akan menuruti keinginan kita sebagai orang tua dan tidak mudah terpengaruh dari luar”. Kurang lebihnya saya mohon maaf bila ada ketikan yang kurang berkenan. Wallohu a’lam bis showab. 

You May Also Like

15 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.