DIY Aparatus Montessori Ala Mama Labib

by - April 03, 2018



            Labib (2y,3w) kini sudah beranjak besar maka kebutuhan untuk beraktivitas bertambah juga seiring dengan pertumbuhannya. Oleh karenanya saya sekarang sangat excited untuk bebikin mainan ala montessorian gitu. Sejak mengenal maria Montessori melalui bukunya “Play & learn” saya makin jatuh hati pada metode pendidikan anak usia dini ini. khususnya dalam memaksimalkan tumbuh kembang di masa golden age.
            “Dari kongkrit ke abstrak” adalah teori pengajaran ala Montessori. Karena inilah cara berfikir anak-anak. Oleh karenanya dalam pemberian mainan yang terselip pembelajaran, diusahakan untuk mengenalkan dengan sesuatu barang atau alat sekongkrit mungkin.

1.      Bussy Book                 : udah punya niat bikin busy book ini sejak Labib belum usia setahun, tapi kenapa ada aja alasan yang menghambatnya hahahah. Penyakit M selalu menghantui. Akhirnya diusia 2 tahun, hanya 2 lembar yang selesai wkwkwkkw. Kancing, dan mencocokkan shape.

2.      Hijaiyah Cards            : Bikin kartu hijaiyh ini udah lama banget. Jauh sebelum kenal dengan maria Montessori. Jadilah kartu ini hanya kartu biasa yang terbuat dari kertas kalender serta kardus terus delaminating dengan solasi bening. Simple banget. Mungkin next saya kasih amplas biar bertekstur dan anak lanang bisa merabanya. Pernah saya tuliskan cerita mengenai sejarah pembuatan huruf hijaiyah ini, ceritanya disini



3.      Counting Board 1-10 : bikin ginian untuk materi game level 6 tentang mengasah berfikir logis bagi anak. Meski belum yang suka dengan kartunya, ia suka dengan playdoughnya yang saya gunakan untuk bulet-buletin sebagai media pembelajar hitungan.




4.      Pink tower                   : ada banyak kayu dirumah. Tapi gergaji sendiri itu melelahkan pemirsah hahahhahaah. Jadilah hanya ada 4 potongan kubus kecil yang sampai saat ini belum bisa terealisasi wkwkkwk. Sempet sich punya pikiran untuk buat pink towernya dari kertas duplek gitu, tapi nunggu niat muncul wkwkkwkwwk.
b   
     baca juga: sensory play with stick animals

5.      Sand paper Alphabet : udah beli moveable alphabet di olshop FB, eh ternyata terbuat dari artfoam. Tak kira dari kayu huhuuhuhuhu. Ya udah saya permak lagi, diberi amplas lalu ditempel ke triplek (yang ini belum kesampaian hahahha)
.     
      Sensorial                               : Permainan ini cocok untuk balita dibawah usia 1 tahun. Tapi entah kenapa pengen aja buat ginian, mumpun bahannya tersedia dirumah hihihi. Ada sisa amplas, kain flanel warna merah dan biru, swarosky yang berbeda bentuk dan warna serta kalin lembut sisa dari tali rambut yang tidak terpakai. masing-masing saya rekatkan di stick es cream. di lem dengan lem tembak. jadi dech, meski cuma disentuh-sentuh ma Labib, itulah tujuannya. meraba fabrick yang berbeda. 


6.      Number rods               : saat terfikir membuat mainan ini, seperti sebuah wangsit. Nggak ada pemikiran sedikit pun membuat number rods dari kain flannel. Thanks God you give me a super idea to make it. Ini pun saya gunakan untuk game level 6 dalam mengasah berfikir matematis pada anak. Meski diusia labib saat ini belum greget untuk memainkannya. Nggak apa, mungkin kelak saat usianya udah besaran dikit, bakalan kita coba ya le.




“Ibu professional adalah ibu yang bermain dengan anak”, kurang lebih begitulah Bu Septi menjelaskan makna ibu professional itu sendiri. Jadi meluangkan waktu sebentar buat bebikinan, bermain dengan anak adalah waktu produktif juga. Ini materi yang ada di kelas Ruang Ibu Bekarya 2.

Saya kutipkan penggalan dari Teh Sri (Kepala Sekolah Hayat School, Bandung): ”Apa yang membuat kita merasa waktu kita tidak produktif? Dengan 3 peran utama kita, sebetulnya semua hal itu produktif, even itu Cuma nemenin anak-anak main, atau menyiapkan tetek-bengek keperluan anak dan suami. Itu bukan kesia-siaan. Itu adalah produktivitas memboosting memori indah pada anak-anak dan pasangan kita, just enjoy the moment. Jika jadwal dapat memudahkan membuat skala prioritas maka buatlah skala prioritas pada peran diri ‘bahagia menjadi aku, menikmati setiap moment menjadi saya, mensyukuri setiap kebahagiaan saya, bersabar dengan diri saya’ skala priorotas bersama pasangan ‘menikmati menjadi partner ngobrol, bercanda, mendengarkan keluh-kesahnya, menikmati mendengarkan celoteh bersama suami’ skala prioritas menjadi ibu, ‘menikmati moment ketika anak-anak ramai karena itu tandanya anak-anak sehat dan bahagia, menikmati porak-porandanya rumah ketika anak-anak mengeksplorasi dirinya’ apakah sesimple itu? silahkan dikembangkan lagi skala prioritasnya."

Ini materi ‘nendang’ banget. Saya yang selama ini merasa sangat bersalah saat tidak ada postingan satu pun di blog selama sepekan gegara urusan domestic kini ditampar habis-habisan oleh materi dari The Sri ini. pundak saya seolah ditepuk hangat oleh beliau, “Nggak apa-apa nggak nulis seminggu. Asalkan anak tidak ‘kehilangan’ ibunya. Subhanalloh, saya yang masih ‘asal-asalan’dalam membersamainya kini semoga jauh lebih ‘sadar’ dan ‘aware’ apa yang menjadi skala prioritas. Bahwa bermain bersama anak bukalah kesia-siaan yang selama ini saya pikirkan. Semua ini adalah memori kenangan yang akan ia kenang selamaya. Jadi ayo mainan dan bikin mainan lagi, Nak!


You May Also Like

19 comments

  1. Waaah mamanya rajin sekali..kadang2 aku amaze sama ibu2 yg sempat bkin diy buat anaknya..kereen menej waktunya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. karena ada challange mbaa, makanya 'lumayan' rain hahhahaha

      Delete
  2. Setelah ini moga Blog nya bisa update dan kontinyu produktif ya...
    Siapa tahu Bu Guru Sri memantau lho hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. ampun Bu Guru hehehe, semoga tetap bisa produktif. menyeimbangkan keduanya. makasih sudah berkunjung bu guru.

      Delete
  3. Aku paling nggak bisa bikin DIY :p. Malah anaku yang rajin banget mba bikin DIY. Tetap semangat ya mba. Semuanya yang terbaik buat keluarga ;)

    ReplyDelete
  4. Kreatif banget mba, bisa dicontek untuk anak saya :D

    ReplyDelete
  5. MasyaAllah ibunya kreatif sekali :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. keterpaksaan yang membuahkan hasil mba hahahah

      Delete
  6. mba...kamu kreatif banget. jadi menginspirasi untuk diy lagi. jaman dulu masih suka rajin. skr...udah makin males wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin kelak saat anaknya udah besar, aku juga nggak seproduktif ini mba hehehhe

      Delete
  7. Bener ih, ibu profesional adalah ibu yang bermain dengan anaknya. Jleb banget ini.

    ReplyDelete
  8. Wah, jadi ide baru buat ngajarin anak belajar matematika

    ReplyDelete
  9. Iya menulis bisa menunggu, anak2 lbh penting ya mbak :D
    Pengen gabung ke Ibu Profesional tapi masih maju mundur khawatir gak sanggup ngerjain tugasnya hehe

    ReplyDelete
  10. Wah kreatif banget mbak, asik nih bisa buat mainan edukatif sama anak ya. Keren-keren dehh

    ReplyDelete
  11. Rajiiinnnn rek ♥
    salam kenal dari Alifah IP Depok mb,,

    ReplyDelete
  12. Keren mbak.. Terima kasih ide2nya

    ReplyDelete

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.