Montessori Bukanlah Aparatus, Tapi Gaya Hidup

by - April 24, 2018



Disclaimer: Sebuah catatan dari kulwap bersama bunda ULFA BUDIASIH S.Psi. founder Happy Kiddie Montessori Daycare. Lulusan dari fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Dan beberapa pengalaman Permontessorian:
1.      Montessori at home rumah aruna
2.      Trained by modern Montessori international
3.      Trained by Montessori haus asia
4.      Associate Montessori haus asia


Berkenalan dengan Montessori. Apa itu Montessori? Jawaban yang sering muncul:
1.      Sekolah mahal
2.      Menuang, menyalin, aktifitas kehidupan praktis
3.      Peralatan dari kayu-kayu
4.      gelas dan teko ukuran kecil

mari berkenalan dengan Montessori.
a.       Montessori adalah sebuah metode pembelajaran yang diperkenalkan oleh dr. maria Montessori.
b.      Maria Montessori merupakan dokter wanita pertama di itali.
c.       Perjalanan waktu membawa Montessori bekerja dengan anak berkebutuhan khusus dan melihat bahwa anak tersebut dapat dinormalkan melalui material yang ia ciptakan.
d.      Montessori kemudian mengelolah casa de bambini, sebuah daycare di slum district. Disinilah awal mula metode Montessori untuk anak normal berkembang.


Ada apa di casa de bambini?
1.      Berada di area kumuh
2.      50 orang anak dengan 1 asisten
3.      Anak-anak cenderung agresif, cranky, dan tidak sabaran.
4.      Anak-anak diajarkan tentang kebersihan diri, bekerja dengan material (aparatus) dan anak yang lebih besar diajarkan merawat diri dan mengerjakan aktivitas sehari-hari.
5.      Anak-anak berubah menjadi mandiri, self-respect, sopan-santun.

Filosofi Montessori?
Apakah metode Montessori?
Apakah alat?
Apakah tehnik mengajar?
Apakah fasilitas sebuah sekolah?


Montessori adalah sebuah GAYA HIDUP. Montessori lebih penting dari aparatusnya, material itu penting tapi bukan segala-galanya. Yang terpenting adalah bagaimana kita menghayati pemikiran Montessori dan mengubah pemikiran kita berdasarkan pemikiran-pemikiran Montessori. Ini yang menjadi catatan penting buat saya pribadi bahwa ketika sibuk ber-DIY-an saya lupa bahwa ada anak yang butuh sentuhan ibunya. Saya terlalu focus pada material Montessori lupa untuk mendalami filosofi Montessori. (maafkan emak ya nak). Ada postingan DIY, disini

Selanjutnya bunda Ulfa berkata (dalam voice note) bahwa Montessori berkata  saat seseorang dititipkan dari rahim seorang ibu, maka ia sudah menjadi  Spiritual embrio atau janin yang sudah mempunyai pontesi tinggal bagaimana kita mengasahnya yang kelak akan menjadi ‘sesuatu’. Spiritual embrio ini akan dikonstruk menjadi seorang individu, self konstruk itu terbentuk setelah anak-anak lahir. Spiritual embrio, setelah lahir dia akan menkonstruk diri. Cara anak self konstruk diri itu ada 2 faktor: internal dan eksternal.

1.      Internal (saat menjadi spiritual embrio) dari anak :
a.       8 PPP (potensi anak)
1.      Low of work : senang bekerja. Bagi dia bekerja tidak disuruh-suruh. Dan bagi anak bekerja adalah bermain.
2.      Development Of imagination and creativity: senang berimajinasi. Pada perinsipnya, anak-anak adalah individu kreatif. Tinggal bagaimana kita menstimulusnya.
3.      Power of attention :suka memperhatikan, suka melihat dengan detail.
4.      Development Of emotional and spiritual life : berkembang secara emosi dan spiritual sepanjang hidupnya.
5.      Stage of growth :setiap tahapan perkembangan sudah ada waktunya.
6.      Low of independence : bebas untuk merdeka. Bisa mandiri.  Pertanyaanya apakah kita selalu memberi kita kesempatan?
7.      Development of intelegence : punya kecerdasan masing-masing. ada 8 kecerdasan dari gardner.
8.      Development of will : anak-anak sangat ingin melakukan segala sesuatu. Jadi hargailah keinginan mereka. Beri kesempatan mereka untuk eksplorasi.

b.      Absorbent mind : kemampuan otak yang mampu menyerap segala informasi. Seperti spons menyerap informasinya.
1.      Unconsius (0-3tahun): SPONS yang benar-benar menyerap segala sesuatu. Dia menyerap kekhawatiran, gaya hidup, dll. Tak hanya informasi, bahkan yang tak tampak pun bisa dirasakan oleh anak. Inilah yang dinamakan unconsius mind.  Missal saat anak dititipkan di daycare, maka hal pertama yang dilakukan ibu adalah Jangan khawatir. Percaya saja bahwa anak tidak anak apa-apa selama ditinggal orang-tua. Karena kekhawatiran itu akan juga bisa diserap oleh anak.
2.      Consius (3-6 tahun) : dia melakukan segala sesuatu sudah punya kesadaran. Butuh pengalaman kongkrit, kalau bisa jangan ada screen time, TV karena itu akan diserap oleh anak. “Everything I say to my child is absorb catalogue and remember”
c.       Sensitive periode/ internal sensitive periode.
·         Periode sensitive atas keteraturan (1-2 tahun) : jangan pindah—pindah rumah, jangan gonta-ganti pengasuhan. Bahkan jangan sampai ada perceraian (kalau bisa) Anak-anak akan tergoncang, akan traumatic.
·         Belajar menggunakan 5 panca indera (1,5 – 3 tahun)
·         Sensitive terhadap benda kecil (2-2,5 tahun) : Contohnya saat anak suka memperhatikan sesuatu yang kecil-kecil, jangan dilarang cukup diawasi jangan sampai dimakan, dimasukkan hidung, dll. Biarkan ia memperhatikan, mengeksplorasi benda-benda kecil tersebut karena ia sedang mengembangkan cara berfikirnya dalam detail. Bagaimana efeknya kalau kita dilarang-larang saat mengamati benda-benda kecil, efeknya anak suka mengabaikan hal-hal detail. Contohnya saya sendiri, saya sering acuh terhadap hal-hal detail seperti tanda-tangan dan tidak membaca terlebih dahulu dll. Mungkin dulunya ibu saya sering melarang saya dalam mengeksplore benda-benda kecil.
·         Periode senstif untuk selalu bergerak (2,5 – 4 tahun)
·         Sensitive terhadap bahasa (1,5 – 3 tahun) : senang bahasa, senang bicara. Sering eksplorasi dengan buku, beri tahu segala sesuatu yang kita lakukan. Mereka butuh banget banyak kosa-kata. Jadi tunjukkan segalanya kepada anak agar mereka tahu.
·         Sensitive terhadap kehidupan social (2,5 – 6 tahun) : senang bermain dengan sebaya, senang berteman, senang bersosial. Ini penting untuk mengembangkan empatinya. Karena kalau ibu mau kasih teori, ayo nak berbagi, ayo nak kita jangan cepat marah, jangan suka memukul dia tidak akan bisa kalau ia tidak pernah berinteraksi dengan temannya.

2.      Factor eksternal.
a.       Kebebasan/ freedom :
1.      Bebas bergerak : boleh berjalan, boleh berlari, ia tidak harus duduk diam. Bagi dia duduk diam 2-3 menit itu sudah sangat lama. Maka beri ia kebebasan. Atur rumah sedemikian rupa agar anak bebas kemana-mana. Fasilitasi apa yang di butuhkan.
2.      Bebas memilih : beri ia kebebasan anak untuk memilih. Missal: kita beri ia pilihan untuk baju rumah, baju keluar.
3.      Bebas berbicara : anak harus diberi kesempatan untuk bisa berbicara. Jangan dihambat. Hal itu akan mematikan curiosity.
4.      Bebas untuk tumbuh :
5.      Bebas untuk dicintai dan mencintai : ia harus merasa dicintai dan mencintai. Jangan sungkan untuk mengungkapkan sayang dan cinta ke anak. Jangan malu untuk peluk anak. Kalau anak orang, minta izinlah terlebih dahulu.
6.      Bebas dari bahaya : lihat lingkungan kita, cepat kita atasi. Itu harus berubah untuk anak kita.
7.      Bebas dari kompetesi : hal ini harus menjadi pemikiran bagi setiap anak. 0-6 tahun harus bebas kompetisi. Hindarilah membanding-bandingkan missal ke antara anak tetangga.
8.      Bebas dari tekanan : anak harus bebas tekanan, tidak boleh tertekan.
b.      Role model :
Ø  Orang dewasa disekitar anak akan menjadi contoh yang akan ikut membentuk diri anak.
Ø  Proyeksikan diri ketika melihat anak
Ø  Jadilah “growing adult”, sadari bahwa yang bertumbuh dan berkembang bukan hanya anak, namun kita sebagai orang dewasa juga bertumbuh.
Ø  Terus belajar dan terus memperbaiki diri.
c.       Lingkungan/ prepared environment mengandung unsure: satu factor yang penting untuk dipersiapkan.
*      Freedom : bagaimana anak bisa berjalan kalau ibu-ibu terus menggendong, terus menggunakan stroller. “orang tua adalah menyiapkan anak untuk bisa lepas dari anak.” Freedom wisdom limit. ‘kebebasan dengan batasan’. Kamu tidak boleh merugikan diri sendiri, tidak boleh merugikan teman sejawat.
*      Struktur dan order : jangan sebentar dipindah-pindah dalam menata ruangan. Missal menaruh alas kerja, maka tetaplah disana.
*      Realita dan alam : bahkan harus alami, harus real. Kata Montessori imajinasi itu penting, tapi fantasi itu tidak.
*      Atmosfir dan keindahan : lingkungan yang indah dan nyaman.
*      Material Montessori : bisa kita fasilitasi. Minimal ada untuk practical life, ada untuk bersih-bersih. Tidak harus seperti Montessori school. Nggak harus dirumah. Bisa dibikin DIY. Yang penting ibu-ibu mengerti filosofi Montessori. Ingat bahwa material adalah satu poin dari berbagai bahasan filosofi Montessori. Dibawah ini dijelaskan material/ area Montessori.

Area/ material dalam Montessori:
v  Ketrampilan hidup / ketrampilan hidup praktis: menyapu, membersihkan rumah, mengepel, menuang/ meyendok benda padat benda cair, meremas, dan semua ini bisa kita lakukan di rumah.  Merawat diri, berpakaian. 
     
b    baca juga: Membuat Jus Jeruk. 

v  Sensorial : segala sesuatu yang merangsang indranya. Cetak kartu warna-warna. Gradasi bunyi, perkenalkan benda-benda yang beratnya beda.
v  Bahasa : anak-anak mengetahui segala sesautu itu punya nama.
v  Matematika : bagaimana berfikir logis, mengestimasi, ada perbedaan bentuk, geometri.
v  Budaya/ cultural (history, botany, science & zoologi):
a.       History: mencakup sejarah. Hanya perlu tahu anak bangun sampai tidur itu ngapain. Hari lahirnya. Hari ini adalah sekarang, bsok adalah besok.
b.      Botani (tumbuh-tumbuhan)
c.       Zoology. Ini ada hewan liar, hewan peternakan, hewan tinggal di laut.
d.      Geografi: ana gunung, sawah, perairan.

Pengetahuan saya bertambah atas terlaksananya kulwap ini. semoga saya bisa mengawal anak dengan terus up garde diri. Salah satunya adalah dengan memahami filosofi itu sendiri. Bukan terpaku pada apparatus saja. Mana suaranya ibu-ibu yang kepikiran aparatusnya Montessori yang mahal? Yuk ubah mind set sesuai dengan filosofi Montessori. kalau ingin baca bukunya, pernah saya review: Montessori Play & leran.  

Terima bunda Ulfa (selaku Narasumber) dari @happykiddiedaycare, mba Vievie selaku moderator. Semoga menjadi jariyah yang tak terputus. Amin.


You May Also Like

5 comments

  1. Bergizi sekali mbak materinya. Kukira mantessori itu lbh ke DIY nya mb, ternyata konsepnya ya. Terimakasih pencerahannya. .

    ReplyDelete
  2. Anak aku sekolahnya ada metode montesorinya neh mbak, tapi gak yang full gitu seh. Tapi aku sampai sekarang kurang paham juga dengan montesori ini. Padahal udah baca-baca tapi tetep aja oon akunya >.<

    ReplyDelete
  3. Postingan yang penuh makna dan bermanfaat, memang perlu sharing beginian di blog nih

    ReplyDelete
  4. Tadinya, aku pikir Montessori itu nama sekolah.

    ReplyDelete

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.