1001 Cara Tarawih Dengan Balita Saat Ramadhan Tiba

by - May 30, 2018

DIY Shalat Tarawih buatan mamak 


            Sudah berapa kali ramadhan berlalu tanpa tarawih emak? 1-2 kali? Samaan mak hehehhe. Kurang lebih udah 2 kali ramadhan saya lalui tanpa tarawih. Simple, karena ada bayik yang enggan ditinggal dirumah atau ikut ke masjid tanpa rengekan atau tangisan hehehe. Semoga tahun ketiga ini saya bisa melakukan tarawih dengan usia Labib 2tahun 3 bulan.

            Sejak hari pertama tarawih, 16 Mei 2018. Saya sudah sounding, briefing, dan role play apa itu tarawih dan apa saja yang DO and DON’T di lakukan saat tarawih. Tentunya tarawih di masjid ya. ilmu ‘daging’ ini saya dapatkan di blognya bu Okina Fitriani, pakar Enlighting parenting. Beliau menuliskan bagaimana membuat balita bisa anteng di masjid saat mengikuti orang tuanya ke masjid untuk melaksanakan taraweh yaitu dengan cara briefing dan role play. Jelaskan sedetail mungkin apa saja yang akan dilakukan di masjid. Bila perlu bawa mainan anak agar ia focus mainan di samping kita. Jadi kapan batita bisa diajak shalat tarawih di masjid? Sampai dia bisa debriefing dan role play. Itulah jawaban bu Okina. Selengkapnya ada disini.


            Hari pertama, sejak pagi saya briefing labib. Kurang lebih seperti ini, “Nanti mau ikut taraweh sama mama? Tapi shalatnya lama, soalnya banyak.” Ucap saya menjelaskan. “Mau,” jawabnya. “Tapi ingat duduk saja samping mama, diam bawa mainan tayo samping mama, lihat aja mama shalat ya?” Kemudian ia menirukan ekspresi saya lengkap dengan jari-jemarinya untuk mengingat DO and DOT tadi.

            (Day-1) Singkat cerita, saat di TKP. Ia sangat antusias dengan banyaknya anak kecil yang berlari-larian. Makin berbinarlah matanya, saat saya memilih shaf paling belakang dan tanpa saya sadari tepat 3 langkah dari tempat saya, ada kulkas besar yang menyediakan minuman dingin. (Subhanalloh Masjid ini makin keren). Dan setelahnya Labib tidak mau beranjak dari kulas itu. setelah 5 menit, beberapa anak perempuan mengambil satu cup air minum dingin. Saya pun mengambilkan untuk labib. Diminum olehnya. Dan saya melanjutkan shalat tarawih berjamaah. Sampai pada shalat kedua, Labib sudah mulai mainin airnya. Disedot, lalu dikeluarkan hingga bajunya basah. “Nggak boleh dibuat mainan.” Ucap saya ketika salam.

            Lanjut shalat kedua, ia terlihat mulai memasukkan tangan ke dalam cup. Dan setelahnya tumphlah air di cup itu ke lantai. Sambil tarik nafas panjang, saya ajak dia pulang. Sebelumnya saya bersihkan dulu genangan air dengan jilbab saya. Day-1 FAILED.

            (Day-2) “Duduk di depan aja, biar ia anteng.” Ucap ibu sembari mengajak saya berangkat shalat tarawih lagi. Sambil melangkah kaki ke masjid, saya sudah menyiapkan mental bahwa mungkin hanya shalat isya’ saja di masjid heheheh. Sengaja pilih shaf disamping, jauh dari kulkas seperti hari pertama. Saya bawakan bus tayo, berharap ia anteng saat saya shalat. Ternyata disamping saya ada kucing lagi selonjoran. Dimainin itu kucing. Sampai bosan, ia lari-larian. Mengikuti mas-mas yang lebih gede usianya. “Ya udahlah nak, kita pulang.” Firasat saya benar. Hari kedua makin parah. Ia sudah tahu ‘medan’nya jadi makin besar keinginannya untuk menjelajah setiap sudut masjid. Apakah saya menyerah? Tentu saja tidak hehehhe. Saya ingin, tahun ini bisa melaksanakan tarawih bagaimanapun kondisinya.



(Day-3), saya ajak suami untuk shalat tarawih bareng di rumah karena tidak memungkinkan membawa labib ke masjid untuk saat ini. proposal diterima. Alhamdulilah. Hari pertama tarawih di rumah, masih ada drama. Tapi setidaknya tidak ada yang terganggu dengan ulah Labib yang belum bisa diam.
(Day-4), Labib yang dari siang tidka tidur, tetiba nangis minta di kelonin saat selesai shalat isya’ sama suami. Jadilah saya ganti baju dinas (daster) lalu negloninya sampai ia tidur pulas. Setelahnya melanjutkan jamaah lagi dengan suami.

(day-5), suami mau nyerah aja “Aku tarawih di masjid ya?” tanyanya. “jangan dunk. Aku sama siapa? Hehehe” namanya balita ya nggak selalu hanya lari-larian. Pasti ada dramanya. Tapi kalau bukan kita orang tuanya yang mau direpotin diusianya saat ini, terus siapa? Akhirnya lanjut tarawih di rumah. Alhamdulilah.

Semoga hari-hari kedepannya sama lancarnya dengan sebelum-sebelumnya. Tanpa ada drama yang berarti. Adakah Tips dari saya adalah sebagai berikut:
1.      Penuhi hak anak. Seperti sudah makan, sudah minum susu dan perut kenyang. Jangankan balita, kita saja orang dewasa kalau lapar pasti bawaanya pengen marah ya hehehheh sama halnya dengan balita. Penuhi haknya sebelum kita ajak tarawih.
2.      Buat dia betah mainan dengan satu atau dua benda. Memang sich namanya anak-anak konsentrasinya tidak lebih dari 1 menit kali usianya. Meski begitu, tidak ada salahnya kita mencoba menyediakannya mainan walau hanya semenit 2 menit.
3.      Tutup/ kunci semua perkakas/ lemari yang bisa dia jangkau. Ini berlaku kalau tarawih di rumah ya moms. Labib paling suka buka-tutup kulkas. Tak jarang mengeluarkan isinya berceceran di lantai. Oleh karenanya saat sebelum tarawih bersama, saya taliin itu kulkas (Labib bisa membuka sendiri soalnya). Aman dech hehehhe
4.      Bebaskan ia berkreasi. Biarkan anak lari sana-sini. Karena itulah caranya mengeluarkan energy.
5.      Sabar. Meluaskan sabar adalah cara terakhir dan yang paling ampuh. Apapun yang anak lakukan, dengungkan dalam hati “Nggak apa, namanya juga anak-anak.” Dan tarik nafas dalam-dalam. Insyalloh sabar kita hari ini, akan berbuah surga kelak.
Itulah sebagian Tips dari saya, yang sampai hari ke 12 ini masih konsisten tarawih di rumah meski dengan anak usia 2 tahun 3 bulan. Niat adalah kunci, dan balita bukan penghalang untuk merengguk pahala di bulan suci ini. yuk moms, jadikan cobaan menjadi tantangan yang harus diselesaikan, right?
            Dan 996 cara lainnya, saya tunggu sharingnya dari moms semua. Bukankah banyak kepala itu lebih baik dari satu kepala? Hahahahaha *alesan*  

You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.