Koko atau Hem? Sama baiknya

by - May 30, 2018

Pixaby


            Tak sebanyak gamis, baju pria yang biasa digunakan saat idul fitri mostly adalah baju koko. Tak jarang juga ada yang memakai hem. Dua-duanya sah-sah aja dipakai oleh kaum pria. Tinggal disesuaikan dengan selera dan kenyamanan saat memakainya. Dipadu-padankan dengan sarung yang bermotif, saya lebih prefer ke baju koko. Enak saja dipandang, dan terlihat kewibawaanya. Apalagi bagi bapak-bapak yang sudah berkeluarga.


            Prakteknya dilapangan tidaklah semudah teori. Itu yang saya alami waktu mengantar suami memilih baju yang akan digunakan untuk idul fitri. Dari satu toko, ke toko lain. Dari satu brand satu ke brand yang lain. Dari motif satu sampai ke polos, kadang tak juga segera ia pinang. Ia lihat detail sekali jahitannya, cuttingnya, bahannya dll. Tapi memang sich saat pria sedang memilih baju, mereka sangat selektif tapi itu hanya sekali dalam setahun. Maksimal 3x lah dalam belanja baju. Tak seperti wanita yang hampir 3 bulan sekali, lapar mata hahahha. Inilah kenapa ada ungkapan “mens like saturnus, woman likes Pluto” banyak sekali perbedaan antara keduanya.

            Bagi moms yang pusing dalam pemilihan baju untuk idul fitri esok, tidak ada salahnya memberi suami pilihan plus-minusnya dalam memilih baju. Pilih koko atau hem, sama-sama punya ketertarikan sendiri. Sedikit saya jabarkan:

a.       Koko   : banyak sekali keutungan dalam memilih koko sebagai baju yang akan digunakan untuk idul fitri nanti. Salah satunya adalah bisa juga digunakan untuk shalat ke masjid sehari-hari. Dipadupadankan dengan sarung dengan motif tertentu, akan terlihat jiwa kebapakannya. Apalagi kokonya bisa couple saya anak lelakinya, tsakepp pasti. Saya dari dulu kepengen gitu lihat suami dan Labib couplean. Tapi apa daya, baju koko yang motifnya bagus, biasanya berlengan pendek. Sedangkan suami tidak cocok dengan koko lengen pendek. Beliau ini tipe pria minimalis yang cenderung kurus. Bisa terlihat tulang semua kalau memakai koko lengan pendek hehehhe

b.      Hem    : tahun lalu saya prefer ke hem, soalnya koko pak suami sudah banyak sedangkan hem nya Cuma beberapa biji doank. Itupun juga ia kenakan untuk ngajar. Bayangkan gimana minimalisnya suami saya hahahahah. Dan saya banyak belajar tentang ini sama doi. Karena ramadhan bukan tentang baju baru, melainkan hati baru untuk memulai dari nol. Mungkin tahun ini, saya juga lebih memilih hem buat paksu, sekalian buat nambah koleksi buat ia kuliah hahahahah (mak irit mode On)

Pixaby


Koko atau hem, sama baiknya. Yang tidak baik adalah tidak berpakaian #eh. Yang paling penting control saja keuangan kita, karena hanya kitalah yang tahu. THR memang hanya ada satu kali dalam setahun, bukan berari kita leluasa menghambur-hamburkannya sekarang juga. Masih ada hari esok, masih ada hak anak yatim dan kaum dhuafa yang menjadi tanggung jawab kita. Bijak dalam berpengeluarkan akan menjadi kita manusia yang tenang tanpa melihat kanan-kiri yang sedang ‘wah’.

            Karena kembali ke fitri bukan berarti pakaian yang serba mahal, tapi jiwa yang penuh rasa syukur dan berkah karena masih diberi kesempatan bertemu dan memuliakan bulan seribu bulan ini.


You May Also Like

0 comments

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.