10 Hal Yang Saya Syukuri Saat Mengontrak

by - July 25, 2018



            9 juli 2018 adalah episode baru bagi keluarga kecil kami. keputusan mengontrak rumah sendiri menjadi pilihan kami untuk lebih mandiri. Tidak lagi berpangku tangan dengan orang tua/ mertua. Keputusan ini bukan keutusan 1/ 2 hari. Tapi perjalanan panjang dari sebuah impian keluarga kecil. Bagaimanapun BERGERAK adalah salah satu kunci untuk tetap dan menambah keharmonisan antar anggota keluarga dan saya merasakan itu.


            Inilah salah satu alasan yang melatar belakangi keputusan kami untuk mengontrak rumah. berpartner  mendirikan sebuah yayasan bukanlah sebuah keputusan kecil, oleh karena itu saat sebuah gedung sudah berdiri, tinggal kami memikirkan strategi jitu untuk mengepakkan sayap.

            Apa saja 10 hal yang saya syukuri selama 2 minggu tinggal di sebuah rumah kontrakan? Chek this out:

1.      Lebih dekat dengan suami. Hal pertama yang saya syukuri adalah komunikasi 2 arah. Saya menyadari betul bahwa keharmonisan rumah tangga terletak pada sebuah komunikasi yang intens dan inilah yang saya rasakan. Dahulu saat tinggal di PMI, komunikasi kita jarang sekali karena masing-masing kebutuhan sudah terpenuhi. Misal: saat saya akan shalat/ mandi, ada abah mertua yang jagain Labib. Sekarang? Dikit-dikit “yang jaga anaknya ya?”, saat sore-sore kami lapar dan stok makanan habis, “yang beli makan di warung depan yuk?” dahulu, saat masih tinggal di PMI, tak pernah kami merasakan lapar karena semuanya udah tersedia di meja makan. (peluk jauh Ibu dan Bapak mertua)

Saat berangkat HBH dengan alumni Krempyan 


2.      Bertetangga dengan orang-orang baru. Intuisi sebagai makhluk social makin terasah. saat memutuskan untuk mengontrak, segalanya harus disiapkan salah satunya adalah bagaimana menjadi tetangga yang baik. Dan Alhamdulilah, saya bersyukur banget karena tetangga depan rumah (yang punya rumah) sangat baik. Terlebih bagi Labib. (peluk bu yuli dan bapak rudi)

3.      Belajar management keuangan. Ini juga tak kalah penting. Saya lebih menghargai uang belanja dari suami. Dan semoga bulan depan bisa melaksanakan program dari IIP tentang cerdas financial. Yaitu menggunakan konsep 10/10/10/70. Dimana besaran itu terdiri dari 10% beramal, 10% menabung, 10% investasi, sisa 70% untuk pengeluaran. (Camilan ke-1Kuliah Bunda Sayang IIP)

4.      Labib lebih berani. Dulunya Labib itu tipe anak rumahan banget, karena depan rumah mertua jalan raya. Jadi mau nggak mau, dia menjadi sedikit saya batasi dalam bergaul. Sehari-hari hanya ketemu kami orang tuanya dan mbah kung-utinya. Alhamdulilah saat kami ajak ia mengontrak rumah, depan rumah adalah halaman yang luas. Jadi ia bisa lari-larian, berteman, bersosilaisasi dengan tetangga kanan-kiri. Alhamdulilah banget mempunyai tetangga yang ‘ngemong’ kayak di depan rumah itu. memiliki tetangga demikian juga merupakan rizki bukan? Alhamdulilah.



5.      Lebih bersyukur saat dulu masih tinggal seatap dengan mertua. Saat merasakan sendiri bagaimana melawan malas saat pagi hari, yang biasanya bisa bangkokng ((BANGKONG)) kini harus berlarian memburu waktu untuk masak nasi, dan belanja ke mlijo. Menerpa dinginnya udara yang dingin dan selimut yang melambai-lambai untuk dipeluk wkwkwkkw.

6.      Tidak menyia-nyiakan makanan. Jadi teringat ibu dirumah yang tak mau lihat ada makanan dibuang-buang. Saat malam hari ada sisa makanan, diangetin dulu biar besok bisa dimakan lagi adalah salah satu hal yang saya tiru dari ibu saya. Menjadi IRT itu tidak hanya pandai di dapur, tapi bagaimana membelanjakan sesuatu se-efektif mungkin. Tidak membuang-bung makanan karena merupakan kegiatan mubadzir.

7.      Management waktu. Agar semua kerjaan IRT tak ada yang kelewat, maka penting untuk membuat daftar to do list. Biar semuanya terencana, meski praktekknya tidak saklek seperti jadwal. Dan iti bekerja efektif sekali bagi saya yang biasanya suka gadgetan hehehe.

8.      Bisa mengontrol makanan keluarga. Micin adalah salah satu hal yang bisa saya control saat masak sendiri. Tapi tidak mungkin terhindar sama sekali, Cuma porsinya sedikit mungkin. Apalagi ada toddler yang masih membutuhkan asupan gizi dan meminimalisir pengawet.  

9.      Hidup minimalis. Akhirnya dari sekian purnama, bisa juga mraktekin hidup minimalis ala KONMARI. Karena masih nomaden, saya membeli (lebih tepatnya meminta ibu)

10.  Menyempatkan diri untuk OLAHRAGA. Keren nggak? NGGAK hahahah karena melawan rasa malas itu jauh lebih tinggi daripada olahraga itu sendiri wkwkkwk. Tapi insyalloh saya mau merutinkan seminggu 2x atau lebih. Semoga tak hanya menjadi wacana hehehhe.


Ada pengalaman serupa nggak mak? Share yuk di kolom komentar suka-dukanya mandiri *senyum pepsodent*  


You May Also Like

1 comments

  1. Salam kenal bloggers, boleh dong kunjungi blog ku https://fulfikablog.wordpress.com/2018/07/26/ternyata-ada-yang-tidak-kita-ketahui-tentang-pt-rapp/ :)

    ReplyDelete

Terima kasih Sudah Berkunjung, dan mohon tidak meninggalkan link hidup.